Syariah kini jadi perbincangan banyak kalangan. Bahkan sebagiannya telah menjadi alternatif yang nyata dirasakan oleh kita. Disamping memberikan manfaat universal di berbagai aspek kehidupan, syariah diyakini akan menyelematkan manusia dari kehidupan yang semakin materialistis. Blog yang anda baca saat ini, mudah-mudahan bisa menjadi media komunikasi dan informasi tentang syariah yang menjadikan hidup jadi lebih baik.
Mengapa Harus Syariah ?
Ya, mengapa harus syariah ? Sebagian orang mungkin akan berkomentar. Toh tanpa syariah, ekonomi kita dan bangsa ini bisa berjalan dengan baik. Lihatlah data yang dilansir oleh berbagai media yang bersumber dari pemerintah. Angka pertumbuhan positif mencapai 6,3%, laju inflasi mampu ditekan sampai pada 6,25%, suku bunga rata-rata 8,0%, nilai tukar rupiah rata-rata Rp.9.135,- per USD, cadangan devisa sebesar 52,8 miliar USD, IHSG berhasil menembus level psikologis 2.000. Pertumbuhan itu juga diikuti dengan turunnya tingkat pengangguran terbuka sebesar 384 ribu dibanding tahun 2006, serta turunnya angka kemiskinan sebesar 2,13 juta dibandingkan tahun 2006. Semuanya menunjukkan, tanpa perlu syariah, ekonomi dan bisnis di negeri ini bahkan dunia bisa ‘menghidupi’ semua umat manusia.
2008 : Satukan Visi Syariah
“Masa depan bank dan perusahaan pembiayaan syariah di Asia cukup cerah,” ujar analis Financial Insights Abhishek Kumar di Singapura. Menurutnya, pertumbuhan industri syariah dalam beberapa tahun terakhir mengalami lonjakan yang cukup besar. Laporan Financial Insight menuliskan, bahwa aset industri keuangan syariah global saat ini mencapai lebih dari USD400 miliar. [Hidayatullah.com, 16 Juli 2007].
Soul of Syariah
Syariah bagi sebagian kalangan mungkin sebuah kata yang asing atau ‘menyeramkan’. Karena (bisa jadi) bayangannya adalah hukum-hukum yang mengerikan yang banyak di opinikan negatif oleh ‘oknum’ yang tidak suka dengan Islam. Potong tanganlah, hukuman matilah, dan opini lainnya yang disampaikan dengan kupasan dan pemahaman yang keliru. Akibatnya stigma negatif menempel pada kata syariah.
Krisis Ekonomi Jilid 2 Mengancam Kita !
Beberapa waktu lalu, perhatian saya terusik oleh sebuah judul tulisan di cover majalah “al-Wai’ie”, sebuah media politik dan dakwah yang ditawarkan kepada saya oleh seorang teman. Judul besar pada cover itu tertulis, “Krisis Ekonomi Jilid 2?”. Kontan saja bayangan saya terbawa (flash back)pada peristiwa yang sama 10 tahun yang lalu, 1997. Saat itu, saya bersama mas Condro, dan mas Andika baru saja mendirikan sebuah perusahaan yang sekarang (alhamdulillah) masih eksis sebagai advertising Islam dengan brand Syafa’at Advertising.
Al-Khawarizmi penemu titik (dalam angka arab) atau angka nol seperti yang kita kenal. Influence-nya begitu besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Angka nol membuka kebekuan laju berbagai ilmu pengetahuan yang akhirnya membawa ilmuwan di dunia menemukan "bahasa" digital yang dimanfaatkan dan dapat dirasakan hingga saat ini. Itulah peran sebuat titik, membuat dunia jadi Berubah! Berubah! dan terus berubah, tulisan dan catatan ini dapat diibaratkan sebuat titik, titik yang tiada artinya yang menyusun luasnya samudra ilmu yang terbentang di dunia ini.