Syariah kini jadi perbincangan banyak kalangan. Bahkan sebagiannya telah menjadi alternatif yang nyata dirasakan oleh kita. Disamping memberikan manfaat universal di berbagai aspek kehidupan, syariah diyakini akan menyelematkan manusia dari kehidupan yang semakin materialistis. Blog yang anda baca saat ini, mudah-mudahan bisa menjadi media komunikasi dan informasi tentang syariah yang menjadikan hidup jadi lebih baik.
Senja Kala Blogging di Indonesia?
Oleh : Tuhu Nugraha Dewanto - Online PR Consultant Virtual Consulting
Karena sekarang saya punya Twitter, maka sehabis nonton film, nggak usah menunggu lama, bisa langsung menuliskan komentar dalam satu kalimat pendek. Misalnya, sehabis nonton film ini, saya langsung pasang status, “Queen Bee is not bad, but flat, really flat.”
Cuplikan pembuka sebuah tulisan di Blog Rumputeki ini saya pikir menjadi sebuah gambaran yang pas untuk mengamati bahwa terjadi perubahan dalam perilaku konsumen di media online, bahwa memang ada penurunan aktivitas blogging di Indonesia. Sebenarnya apa yang terjadi di Indonesia, sudah dialami oleh Amerika Serikat tahun lalu, seperti yang dilaporkan oleh Business Week. Saya pernah menulisnya disini.
Saat itu saya sangat optimis bahwa blog akan bertahan lama, itu sekitar satu tahun lalu, namun ternyata perubahan begitu cepat. Saat tulisan itu saya buat, Friendster masih sangat berjaya, namun mendekati akhir 2008 Facebook merajai jagad online Indonesia, dan pengaruhnya jauh lebih besar dibandingkan Friendster.
Para blogger sepertinya mulai kehilangan tenaga untuk memperbaharui tulisan di blognya. Banyak blog yang terbengkalai, dan jarang diupdate. Di sisi lain, para pengunjung blog juga mulai menurun, karena mereka asyik dengan Facebook yang banyak menyedot perhatian konsumen di media online. Lalu apa sebenarnya yang terjadi?
Pertama, konsumen online saat ini sangat keranjingan dengan yang namanya Facebook. Saya yakin hampir semua orang saat ini waktunya dihabiskan di Facebook, dibandingkan website manapun saat menggunakan internet. Kedua, kehadiran microblogging yang juga sedang tren seperti Plurk yang sedang naik daun di Indonesia, lalu disusul Twitter yang belakangan juga mulai diminati di Indonesia, menyebabkan orang lebih banyak menulis dalam kalimat singkat-singkat. Ketiga, yang tak kalah penting semakin banyaknya konsumen yang terkoneksi dengan mobile internet melalui Handphone atau Blackberry.
Kombinasi ketiga hal tersebut, menyebabkan konsumen online sudah jarang mau menyisihkan energi yang begitu besar untuk menulis panjang lebar di sebuah blog. Mereka sekarang dengan gampangnya update on the spot melalui Twitter, Plurk, atau Facebook. atau kalau punya lebih banyak waktu luang, mereka sibuk untuk mengintip status para teman-temannya di Facebook, tag foto dll. Jadi sangat logis kalau waktu yang biasanya disisihkan untuk nulis blog, dan berkunjung secara reguler ke blog-blog tetangga menjadi semakin sempit.
Lalu apa konsekuensinya bagi para pemilik merek??? Mau tak mau Anda harus bisa berkecimpung juga disana, berinteraksi dengan konsumen dengan berbagai social media ini. Apa yang saya pernah tulis sebelumnya mengenai Yaris di Facebook mungkin bisa menjadi contoh. Saya juga mengikuti LAlight yang membuat account Twitter, yang juga selalu memposting sesuatu yang interaktif dan menghibur.
Anda harus mengerti sebenarnya target konsumen Anda itu paling pas didekati dengan social media apa? Karena setiap social media punya penggemarnya masing-masing. Misalnya, antara Twitter dan Plurk, walaupun sama-sama microblogging, komunitasnya berbeda, sehingga interaksi yang diciptakan juga tidak bisa disamakan.
Lalu apakah kemudian tidak perlu melakukan pendekatan dengan Blogger, karena blogging sudah menurun? Apabila Anda berpikir demikian itu juga salah besar. Walaupun trennya sedang mengalami penurunan, bukan berarti mati total. Ibarat seleksi alam, mereka-mereka yang saat ini masih aktif menulis blog adalah mereka yang memang serius dengan dunia tulis menulis.
Mereka biasanya mempunyai gaya yang khas, tema spesifik di blognya, dan juga analisa yang lebih mendalam. Sehingga apabila produk Anda ditulis positif di sebuah blog maka dampaknya akan semakin luas, karena mereka dianggap punya kredibilitas lebih. Dan satu hal lagi yang penting untuk diketahui, tulisan di blog itu terindeks oleh mesin pencari (misalnya Google, Yahoo dan mesin pencari lainnya).
Sementara rekomendasi akan produk Anda, atau perbincangan mengenai produk Anda di microblogging atau Facebook dan sejenisnya, itu pada umumnya hanya akan dibaca terbatas pemilik akun di situs tersebut, dan tidak terindeks oleh Google. Sebagai konsekuensinya, apabila seorang konsumen membutuhkan informasi mengenai produk Anda, atau yang berkaitan dengan produk Anda, yang sudah ditulis di Facebook misalnya, informasi tersebut tidak akan muncul.
Kesimpulannya, Blogger itu masih punya peran yang sangat strategis sebagai penyambung lidah produk Anda. Apalagi kebiasaan konsumen saat ini, yang saat ini melakukan riset dulu sebelum melakukan pembelian, yang digambarkan dengan sangat cantik lewat tulisan Konsumen Pecas Ndahe.
Namun untuk mendekati ke Blogger saat ini tak semudah dulu, agar pesan Anda ditulis. Karena saat ini Blogger sudah jarang menulis, keblinger dengan social media dan microblogging, ditambah lagi dengan begitu banyaknya undangan buat para blogger menghadiri berbagai acara yang disponsori oleh merek tertentu.
Saat ini blogger sudah seperti selebritis yang diundang kesan kemari, dijamu dengan bermanis-manis ria persis dengan apa yang dilakukan dengan para jurnalis media konvensional. Untuk sekedar mengintip betapa larisnya blogger di undangan postingan Undangan Pecas Ndahe, mungkin bisa memberikan gambaran. Sayangnya, mereka ini bukan jurnalis dimana menulis adalah sebuah pekerjaan dan dibayar. Apabila ingin membetot perhatian mereka, dan produk Anda ditulis, maka harus membuat sebuah pengalaman yang istimewa, dan sesuatu cerita yang menarik sehingga membuat mereka merasa perlu menuliskannya di blog.
Sumber : http://www.virtual.co.id/blog/cyberpr/senja-kala-blogging-di-indonesia/
Leave a Reply
Al-Khawarizmi penemu titik (dalam angka arab) atau angka nol seperti yang kita kenal. Influence-nya begitu besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Angka nol membuka kebekuan laju berbagai ilmu pengetahuan yang akhirnya membawa ilmuwan di dunia menemukan "bahasa" digital yang dimanfaatkan dan dapat dirasakan hingga saat ini. Itulah peran sebuat titik, membuat dunia jadi Berubah! Berubah! dan terus berubah, tulisan dan catatan ini dapat diibaratkan sebuat titik, titik yang tiada artinya yang menyusun luasnya samudra ilmu yang terbentang di dunia ini.